Senin, 12 Oktober 2015



Nama                  : Oktaviani Vika Ariska
NPM                   : 15410151
Kelas                   : 1D

Ulasan Teater
“Mengancam Kenangan”


“kenangan sepertinya bersekutu dengan pagi untuk hadir setiap hari. Tapi ternyata mereka berdua tidak mengusik, tidak juga berisik.”
(salah satu naskah yang diungkapkan dalam pementasan “Bulan Bahasa” oleh Teater Tikar Universitas PGRI Semarang, karya Iruka Dhanishwara dan sutradara Ibrahim Bhra. Kamis, 08 Oktober 2015, di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang.
Naskah Mengancam Kenangan, Karya Iruka Danishawara (anggota Teater Tikar) merupakan tafsiran atau reprentasi kejemuan siapaun dalam menyikapi kenangan. Ya, siapapun. Karena yang memiliki kenangan bukan hanya manusia, tapi seluruh makhluk bahkan benda atau apa dan siapapun berhak memiliki kenangan. Naskah “Mengancam Kenangan” merupakan tumpukan dan benturan antara kenangan satu dengan lainya, yang berintegrasi, saling melilit. “Mengancam Kenangan” meminta untuk diurai, ditarik satu per satu “Lilitan” kenangan tersebut agar kita memosisikan kenangan secara tetap. Akhirnya kita bisa menyikapi kenangan merupakan sebuah kekonyolan, maka Mengancaman Kenangan menjadi alternative, karena mengatur kenangan pun sangat tidak memungkinka.
Awal pertunjukan yang menegangkan bermula dari suatu pagi yang terlihat seperti senja. Matahari malu-maluuntuk mengucapkan selamat pagi. Tangan setengah tua menggengam gagang sapu bak tentara mengangkat senjata. Sama sekali tidak terlihat gemetar untuk menyapu kerikil-kerikil di ubin teras rumahnya. Pagi mengucapkan selamat pagi pada Nyonya. Sedangkan Nyonya sudah terlalu asik membersihkan teras rumahnya. Dimana kaki-kaki kecil pernah menapak disana bersama sepasang kaki besar yang tidak pernah absen menemani. Seperti ada sesuatu yang turut dalam ijuk sapunya ke kanan kiri, terbuang bergabung bersama debu. Sedangkan Nyonya berusaha memilahdebu yang mana yang harus dibunang karena hasil serpihan dari kerikil, dan mana debu yang pernah menempel di telapak kaki. Nyonya sibuk memperbaiki pagi, pagi justru sibuk mencari perhatian Nyonya dengan mengucapkan selamat pagi. Penulis naskah memang sengaja membuat naskah model naratif-deskriptifnya yang sulit untuk diterjemahkan. Meski sebenarnya, “Mengancam Kenangan” merupakan terjemahan gagasan lingkaran anggota Teater Tikar. Pemaknaan detail harus diberlakukan kepada tokoh (yang bukan hanya manusia), bab sampai bangunan secara utuh. Maka seluruh elemen pertunjukan harus menjukkan bahwa yang ditampilkan merupakan berpresentasi kenangan. Seperti itulah kenangan. Sederhana jika Ia ingin kembali pada kenangan. Kenangan kita “berdirikan” agar bisa meniali kenangan secara obyektif. Penguraian lilitan kenangan tersebut menjadi semacam usaha “memberdirikan” kenangan, agar dia sejajar beberadaanya degan makhluk maupun benda. Lalu apa yang kita perbuat setelah kenangan sudah berdiri sendiri?. “Tidak perlu Ia cari “kemana”atau “di mana”. Bak mandi, itu jawabanya, sederhana, Bukan? Tapi kenanganitu datang di sana,sesederhana tampaknya juga tempatnya. Tidak apa-apa di bak mandi, Cuma ada air. Bak mandi yang cukup besar untuk Ia dan wanita itu. Tubuh mereka berdua sama-sama kecil sampai bisa masuk ke sana berdua. Kemudian Ia teringat tubuh wanita yang tenggelam penuh kedalam air, begitu bening hingga ia bisa melihat jelas setipa lekuk tubuh wanita itu. Tubuh dengan aroma yang masih saja sama walau sudah terlalu lama berendam”.
Drama ini tidak hanya bercerita tentang kenangan yang kelam tapi drama ini juga bercerita tentang kenangan yang romantis. Keromantisan itu dibuktikan dengan adegan sang anak memeluk boneka yang sebeanrnya itu adalah bayangan si istri. Nskah “Mengancam Kenangan” memang tidak member ruang kita untuk rehat berpikir serta sejenak mendiamkan perasan. Tumpukannya terlampau padat. Bakal melelehkan pemain (juga penonton) jika nuansa melankolis tidak dibarengi dengan suasana yang bermacam. Eksplorasi gerak, nada dialog, ilustrasi, serta setting menjadi keharusan. Dengan setidaknya lima pemeran, interpretasi kenangan serta penyikapan dihindari. Akhrir cerita “sama seperti kenangan yang menyimpan rapat-rapat rahasia setiap insane. Dan, karena ialah penjaga rahasia paling sempurna, setiap insan akan merasa diancam oleh masa lalunya, masa yang sedang dilaluinya, masa depan yang menantinya. Sama seperti kenangan yang sangat bungkam pada setiap apa yang dilalui, setiap insan yang maraca diancam oleh apa yang ia lalui sendiri, tanpa orang lain. Dan, cara terbaik memberikan ancaman pada kenangan adalah dengan menerima, menyaksikan, dan berlapang dada bahwa kenangan itu aka nada di tempatnya pada seluruh sisa hidupmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar