Nama :
Oktaviani Vika Ariska
NPM : 15410151
Kelas : 1D
Ulasan
Teater
“Mengancam
Kenangan”
“kenangan
sepertinya bersekutu dengan pagi untuk hadir setiap hari. Tapi ternyata mereka
berdua tidak mengusik, tidak juga berisik.”
(salah satu naskah yang diungkapkan dalam pementasan
“Bulan Bahasa” oleh Teater Tikar Universitas PGRI Semarang, karya Iruka
Dhanishwara dan sutradara Ibrahim Bhra. Kamis, 08 Oktober 2015, di Gedung Pusat
Lantai 7 Universitas PGRI Semarang.
Naskah Mengancam Kenangan, Karya Iruka Danishawara
(anggota Teater Tikar) merupakan tafsiran atau reprentasi kejemuan siapaun
dalam menyikapi kenangan. Ya, siapapun. Karena yang memiliki kenangan bukan
hanya manusia, tapi seluruh makhluk bahkan benda atau apa dan siapapun berhak
memiliki kenangan. Naskah “Mengancam Kenangan” merupakan tumpukan dan benturan
antara kenangan satu dengan lainya, yang berintegrasi, saling melilit.
“Mengancam Kenangan” meminta untuk diurai, ditarik satu per satu “Lilitan” kenangan
tersebut agar kita memosisikan kenangan secara tetap. Akhirnya kita bisa
menyikapi kenangan merupakan sebuah kekonyolan, maka Mengancaman Kenangan
menjadi alternative, karena mengatur kenangan pun sangat tidak memungkinka.
Awal pertunjukan yang menegangkan bermula dari suatu
pagi yang terlihat seperti senja. Matahari malu-maluuntuk mengucapkan selamat
pagi. Tangan setengah tua menggengam gagang sapu bak tentara mengangkat
senjata. Sama sekali tidak terlihat gemetar untuk menyapu kerikil-kerikil di ubin
teras rumahnya. Pagi mengucapkan selamat pagi pada Nyonya. Sedangkan Nyonya
sudah terlalu asik membersihkan teras rumahnya. Dimana kaki-kaki kecil pernah
menapak disana bersama sepasang kaki besar yang tidak pernah absen menemani.
Seperti ada sesuatu yang turut dalam ijuk sapunya ke kanan kiri, terbuang
bergabung bersama debu. Sedangkan Nyonya berusaha memilahdebu yang mana yang
harus dibunang karena hasil serpihan dari kerikil, dan mana debu yang pernah
menempel di telapak kaki. Nyonya sibuk memperbaiki pagi, pagi justru sibuk
mencari perhatian Nyonya dengan mengucapkan selamat pagi. Penulis naskah memang
sengaja membuat naskah model naratif-deskriptifnya yang sulit untuk
diterjemahkan. Meski sebenarnya, “Mengancam Kenangan” merupakan terjemahan
gagasan lingkaran anggota Teater Tikar. Pemaknaan detail harus diberlakukan
kepada tokoh (yang bukan hanya manusia), bab sampai bangunan secara utuh. Maka
seluruh elemen pertunjukan harus menjukkan bahwa yang ditampilkan merupakan
berpresentasi kenangan. Seperti itulah kenangan. Sederhana jika Ia ingin
kembali pada kenangan. Kenangan kita “berdirikan” agar bisa meniali kenangan
secara obyektif. Penguraian lilitan kenangan tersebut menjadi semacam usaha
“memberdirikan” kenangan, agar dia sejajar beberadaanya degan makhluk maupun
benda. Lalu apa yang kita perbuat setelah kenangan sudah berdiri sendiri?. “Tidak
perlu Ia cari “kemana”atau “di mana”. Bak mandi, itu jawabanya, sederhana,
Bukan? Tapi kenanganitu datang di sana,sesederhana tampaknya juga tempatnya.
Tidak apa-apa di bak mandi, Cuma ada air. Bak mandi yang cukup besar untuk Ia
dan wanita itu. Tubuh mereka berdua sama-sama kecil sampai bisa masuk ke sana
berdua. Kemudian Ia teringat tubuh wanita yang tenggelam penuh kedalam air,
begitu bening hingga ia bisa melihat jelas setipa lekuk tubuh wanita itu. Tubuh
dengan aroma yang masih saja sama walau sudah terlalu lama berendam”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar