Nama : Oktaviani Vika Arisaka
Kelas : 1D
NPM : 15410151
Soekarno
Film terbaru karya Hanung Bramantyo berjudul
Soekarno: Indonesia Merdeka, mengisahkan dengan ringkas dan cerdas fase-fase
kisah kehidupan Soekarno Sang Proklamator.
Fase pertama dimulai dengan kisah kelahiran Soekarno
dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo (diperankan Sujiwo Tejo) dan Ida Ayu
Nyoman Rai (diperankan Ayu Laksmi). Sukarno kecil memiliki nama Kusno
Sosrodiharjo, namun larena selalu sakit-sakita maka sang ayah yang berlatar
belakang Muslim dan Kejawen memutuskan untuk mengganti namanya melalui tradisi
selametan dengan nama baru, Sukarno (diperankan Emir Mahira).
Face kedua, film beralih mengisahkan kehidupan
Sukarno pada masa remaja (14 tahun) saat mana dia memasuki Hoogere Burger
School (HBS) dan tinggal bersama Oemar Said Cokroaminoto, pimpinan organisasi
Syariat Islam di Surabaya. Sukarno kerap mendengar pidato-pidato Cokroaminoto
yang menggelegar mengkritisi system kolonialisme. Petikan pidato Cokroaminoto
yang inspiratif, “Marilah kita menjadi tuan-tuan atas diri kita sendiri!”.
Sukarno remaja terlibat percintaan dengan seorang remaja Belanda, namun oleh
karena perbedaan status sebagai bangsa penjajah dan bangsa jajahan, maka remaja
Sukarno mendapatkan perlawanan keras dari keluargasang gadis. Mendapat
perlakuan diskriminatifdan pelanggaranini, remaja Sukarno berkreasi keras.
Fase ketiga, Sukarno remaja (diperankan oleh Aryo
Bimo) telah bertumbuh menjadi seorang pemuda yang aktif dalam kegiatan dan
pidato-pidato politik menentang dan mengritis system kolonialisme yang
memblenggu Indonesia. Setamat di Technishe Hoge School (sekarang ITB), Sukarno
mudamendirikan Partai Nasional Indonesia. Sukarno telah memiliki istriyang
setia mendampingi perjuangan politik dalam suka dan duka bersama Inggit
Garnasih (diperankan Maudy Koesnaedy). Dia adalah ibu kost Sukarno yang
menjanda, saat Sukarno masih kuliah awal di Bandung dan kemudian menjadi istri
Sukarno. Peranan Inggit cukup menonjol dalam film ini sebagai seorang perempuan
yang setia mendampingi Sukarno saat dirinya Menhadapi masa-masa sulitbaik
ketika dipenjarakan di LP. Sukamiskin Banceuy maupun saat dibuang ke Pulau
Ende. Kesetiaan Inggit bukan hanya dalam pendampingan melainkan mengeluarkan
pembiayaan atas perjuangan politik Sukarno.
Face keempat menceritakan kehidupan Sukarno saat di
pembuangannya di Bengkulu. Sehari-hari dia mengajar di sekolah Muhamadiyah. Di
Bengkulu inilah Sukarno terlibat asmara dengan salah satu muridnya bersama
Fatmawati (diperankan oleh Tika Bravani), muridnya yang cantik dan cerdas serta
kerap bertanya di kelas. Inggit yang semula menerima keberadaan Fatmawati
sebagai anak angkat mulai gerah dan bereaksi keras saat Sukarno menyatakan
hendak memperistri Fatmawati. Pertengkaran kerap terjadi dalam rumah tamgga
Sukarno akibat kekecewaan Inggit dan ketidakbersediaannya untuk menjadi madu
karena dipoligami.
Face kelima, menghantarkan kembali Sukarno ke
Jakarta (9 januari 1942) oleh pemerintahan Jepang. Dalam suatu percakapan
antara Sukarno dan Sakaguchi telontar pernyataan,”Walanda (Belanda) yang
memenjarakan Anda namun Nipong (Nippon) membebaskan…!”, seraya meninggalkan
Sukarno dan mengambil obor yang dipangangnya. Di Jakarta, Sukarno bertemu
dengan teman-teman perjuangannya yaitu Muhammad Hatta (diperankan oleh Lukman
Sardi) dan Syahrir (diperankan Tanta Ginting). Sukarno tinggal di rumah yang
disediakan pemerintahan Jepang. Namun di Jakarta inila, saat Sukarno menerima
kebebasan dari pembangunan, Inggit pun menuntut kebebasan untuk tidak menjadi
istri Sukarno dengan menuntut cerai. Tahun 1942, Sukarno bercerai dengan Inggit
dan sekaligus menikah dengan Fatmawati dan melahirkan putra pertamanya bernama
Guntur Sukarno Putra.
Film ini ditutup
dengan kisah heroik dan mengharukan saat naskah Proklamasi dibacakan dan
bendera merah putih buatan Fatmawati dikibarkan. Bangsa Indonesia ersorak dan
bersukacita atas kebebasan yang diproklamirkan, Inggit yang menenun sepi di
Bandung pun turut bergembira atas berita kemerdekaan ini. Indonesia baru telah
ditandatangani dan diproklamirkan, sebuah pintu masuk menuju jembatan emas
sebagaimana tulisan Sukarno.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar