Rabu, 21 Oktober 2015



Nama                  : Oktaviani Vika Arisaka
Kelas                   : 1D
NPM                   : 15410151

Soekarno



Film terbaru karya Hanung Bramantyo berjudul Soekarno: Indonesia Merdeka, mengisahkan dengan ringkas dan cerdas fase-fase kisah kehidupan Soekarno Sang Proklamator.
Fase pertama dimulai dengan kisah kelahiran Soekarno dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo (diperankan Sujiwo Tejo) dan Ida Ayu Nyoman Rai (diperankan Ayu Laksmi). Sukarno kecil memiliki nama Kusno Sosrodiharjo, namun larena selalu sakit-sakita maka sang ayah yang berlatar belakang Muslim dan Kejawen memutuskan untuk mengganti namanya melalui tradisi selametan dengan nama baru, Sukarno (diperankan Emir Mahira).
Face kedua, film beralih mengisahkan kehidupan Sukarno pada masa remaja (14 tahun) saat mana dia memasuki Hoogere Burger School (HBS) dan tinggal bersama Oemar Said Cokroaminoto, pimpinan organisasi Syariat Islam di Surabaya. Sukarno kerap mendengar pidato-pidato Cokroaminoto yang menggelegar mengkritisi system kolonialisme. Petikan pidato Cokroaminoto yang inspiratif, “Marilah kita menjadi tuan-tuan atas diri kita sendiri!”. Sukarno remaja terlibat percintaan dengan seorang remaja Belanda, namun oleh karena perbedaan status sebagai bangsa penjajah dan bangsa jajahan, maka remaja Sukarno mendapatkan perlawanan keras dari keluargasang gadis. Mendapat perlakuan diskriminatifdan pelanggaranini, remaja Sukarno berkreasi keras.
Fase ketiga, Sukarno remaja (diperankan oleh Aryo Bimo) telah bertumbuh menjadi seorang pemuda yang aktif dalam kegiatan dan pidato-pidato politik menentang dan mengritis system kolonialisme yang memblenggu Indonesia. Setamat di Technishe Hoge School (sekarang ITB), Sukarno mudamendirikan Partai Nasional Indonesia. Sukarno telah memiliki istriyang setia mendampingi perjuangan politik dalam suka dan duka bersama Inggit Garnasih (diperankan Maudy Koesnaedy). Dia adalah ibu kost Sukarno yang menjanda, saat Sukarno masih kuliah awal di Bandung dan kemudian menjadi istri Sukarno. Peranan Inggit cukup menonjol dalam film ini sebagai seorang perempuan yang setia mendampingi Sukarno saat dirinya Menhadapi masa-masa sulitbaik ketika dipenjarakan di LP. Sukamiskin Banceuy maupun saat dibuang ke Pulau Ende. Kesetiaan Inggit bukan hanya dalam pendampingan melainkan mengeluarkan pembiayaan atas perjuangan politik Sukarno.
Face keempat menceritakan kehidupan Sukarno saat di pembuangannya di Bengkulu. Sehari-hari dia mengajar di sekolah Muhamadiyah. Di Bengkulu inilah Sukarno terlibat asmara dengan salah satu muridnya bersama Fatmawati (diperankan oleh Tika Bravani), muridnya yang cantik dan cerdas serta kerap bertanya di kelas. Inggit yang semula menerima keberadaan Fatmawati sebagai anak angkat mulai gerah dan bereaksi keras saat Sukarno menyatakan hendak memperistri Fatmawati. Pertengkaran kerap terjadi dalam rumah tamgga Sukarno akibat kekecewaan Inggit dan ketidakbersediaannya untuk menjadi madu karena dipoligami.
Face kelima, menghantarkan kembali Sukarno ke Jakarta (9 januari 1942) oleh pemerintahan Jepang. Dalam suatu percakapan antara Sukarno dan Sakaguchi telontar pernyataan,”Walanda (Belanda) yang memenjarakan Anda namun Nipong (Nippon) membebaskan…!”, seraya meninggalkan Sukarno dan mengambil obor yang dipangangnya. Di Jakarta, Sukarno bertemu dengan teman-teman perjuangannya yaitu Muhammad Hatta (diperankan oleh Lukman Sardi) dan Syahrir (diperankan Tanta Ginting). Sukarno tinggal di rumah yang disediakan pemerintahan Jepang. Namun di Jakarta inila, saat Sukarno menerima kebebasan dari pembangunan, Inggit pun menuntut kebebasan untuk tidak menjadi istri Sukarno dengan menuntut cerai. Tahun 1942, Sukarno bercerai dengan Inggit dan sekaligus menikah dengan Fatmawati dan melahirkan putra pertamanya bernama Guntur Sukarno Putra.
Film ini ditutup dengan kisah heroik dan mengharukan saat naskah Proklamasi dibacakan dan bendera merah putih buatan Fatmawati dikibarkan. Bangsa Indonesia ersorak dan bersukacita atas kebebasan yang diproklamirkan, Inggit yang menenun sepi di Bandung pun turut bergembira atas berita kemerdekaan ini. Indonesia baru telah ditandatangani dan diproklamirkan, sebuah pintu masuk menuju jembatan emas sebagaimana tulisan Sukarno.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar