Nama :
Oktaviani Vika Ariska
Kelas :
1D
NPM :
15410151
Wayang Kampung Sebelah
Mawas Diri Menatar
Berani
Didalangi oleh Ki Slideng Suparman dengan judul
Mawas Diri Menatar Berani cerita diawali burung garuda yang terbang dan
berputar-putar membuat pertunjukan lebih menarik dan Cadul yang mengaku seorang
artis yang professional yang pada awal pertunjukan menari-nari. Desa Bangunjiwo
yang ada kampanye pemilihan kepala desa. Pak Klungsur 49 putra Bangunjiwo yang
mencalonkan diri sebagai kepala desa, mengkampanyekan untuk memajukan desa
Bangunjiwo. Mbah Sidik yang akan menghitung hasil pemilihan tapi papan untuk
menulis hilang, dan mbah Sidik memarahi Parjo dan Sodron, tapi Sodron salah
paham dia mengira si Mbah menanyakan blabak untuk membuat peti mati. Sodron
merasa di fitnah oleh si mbah dan Sodron menangis di depan Si mbah sidik karena
sakit hati. Si Mbah menanyakan blabak lagi kepada Tro tapi menjawab bahwa dia
tahu dimana blabak itu ia simpan. Lalu Tro menjawab “untuk apa Mbah blabak
mbah?”. Si Mbah menjawab “untuk menghitung suara!”. Tro menjawab suara itu
tidak dihitung tetapi direkam. Parjo datang dan member tahu si Mbah Sidik bahwa
suara hasil pemilihan kepala desa sudah dihitung. Pemilihan kepala desa
Bangujiwo dimenangkan oleh kelompok iwak koyor atas nama Bapak Somat. Ternyata Pak
Somat menang karena pak Somat member uang kepada warga sebesar Rp 50.000 agar
warga memilih Pak Somat. Ini pesan untuk warga jika ada pemilihan kepala desa
atau pemilihan apapun jangan melihat dari uang yang diberikan tapi lihatlah
dari kualitas dan integritasnya. Si Mbah dan timnya pun ternyata meminta bonus
karena Pak Somat telah menang. Si Mbah Sidik pun diberi bonus sebesar Rp 30
juta untuk dibagi rata kepada timnya, tapi si Mbah Sidik korupsi bagian dari
Parjo dan Sodron. Parjo dan Sodron hanya diberi Rp 300.000 saya.
Dunia bagaikan panggung sandiwara, lek mengeluh
karena hidupnya melarat dari mulai ia lahir hingga saat ini. Pret pun datang
dan menasihati lek karena lek binggung karena pemerintah mengatakan angka kemiskinan
menurun tapi pada kenyataannya tidak. Pancasila sebagai dasar Negara atau
pedoman untuk Negara. Yang harus dimengerti arti atau makna pancasila bukan
rakyat yang harus dikejar-kejar tapi pemimpin. 1 juta jiwa tidak hafal
pancasila tidak masalah tetapi jika seorang pemimpin tidak mengerti apa arti
pancasila bansa dan Negara akan hancur. Oleh karena itu, dibulan bahasa ini
kita merayakan bersama-sama dengan tiga bahasa yaitu bahasa Indonesia, bahasa
jawa, dan bahasa inggris. Tetapi kita jugaharus tetap mencintai bahasa kita
yaitu bahasa Indonesia, meskipun saat ini kita dalam era globalisasi. Oleh
karena itu, UPGRIS dipercaya oleh pemerintah untuk menjadikan seorang pendidik
yang berkarakter.
Mc pada acara tasyakura Pak Somat menjadi Kepala
desa, mempersilahkan Bonkoramari-mari yang menyanyikan sebuah lagu dari Roma Irama
yang berjudul Mencari Teman. Mc melanjutkan acara dengan mempersilahkan
Syahmarni bernyanyi lagu yang berjudul Pusing Pala Barbie. Mc melanjutkan acara
dengan memanggil artis luar negeri tapi pada kenyataannya Bobmarna itu adalah
artis dari Purbalingga Banyuwang, menyanyikan sebuah lagu yang berjudul
Sayidan. Mc dibuat kaget oleh pemain dram, mc melanjutkan acara untuk
mempersingkat waktu dengan memanggil Minul Dara Tinggi yang menyanyikan sebuah
lagu yang berjudul Liku-liku.
Jon tiba-tiba naik
panggung dan marah-marah karena tidak terima jika Pak Somat menjadi kepala
desa. Karena Pak Somat melakukan konspirasi politik. Jon meminta untuk
pemilihan kepala desa ulang. Tetapi ada orang yang meminta Jon turun dari
panggung karena ingin pertunjukan dangtu itu dilanjutkan tetapi Jon tidak mau
dan akhirnya mereka bertengkar. Lek datang kerumah Pak Somat karena ada tawuran
masa, dan Lek bertanya pada Pak Polisi mengapa pihak Polisi tidak menghentikan
tawuran masa. Karena polisi di sini serba salah, lek juga bertanya kepada Parjo
yang tidak juga menghentikan tawuran masa tersebut, padahal Parjo adalah
seorang aparat keamanan. Karena aparat keamanan tidak mendapat mandat dari kepolisian.
Jon datang untuk menengahi lek dan Pak Somat, Jon berkata-kata dengan kata yang
nasionalisme.Pertunjiukan diakhiri dengan kata-kata Indonesia harus mawas diri
karena kalau tidak mawas diri Indonesia akan hancur. Amanat dari pertunjukan
wayang kampung sebelah ini adalah memberi pembelajaran kepada kita tentang
bagaiman cara berpolitik yang baik dan bagaimana untuk memajukan bangsa
Indonesia dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar