Minggu, 25 Desember 2016

Komentar Opini

Menimbang (Ketiadaan) UN (Wawasan, 14 Desember 2016)

Saya setuju dengan Setia Naka Andrian mengenai Menimbang (Ketiadaan) Ujian Nasional memang Ujin Nasional menjadi momok ketakutan bagi para siswa kita tidak sedikit kasus bunuh diri yang dilakukan siswa yang disebabkan takut tidak lulus ujian dan banyak pula siswa yang depresi akibat tidak lulus ujian. Memang harus dipertimbangan dengan matang masalah ujian ini. Tetapi menunurut saya ujian harus tetap diadakan karena dengan ujina siswa dapat berkompetisi namun, hasil UN tidak 100% yang menentukan kelulusan. Agar ujian tidak menjadi momok ketakutan siswa, tetapi jangan membuat siswa malah menjadi menganggap enteng UN atau meremehkan UN. Harus ada suatu tingkatan yang membuat siswa bepikir harus bisa melewati UN meskipun UN tidak menjadi penentu kelulusan. Apapun keputusan pemerintah, semoga menjadi yang terbaik untuk masyarakat dan masyarakat menerima keputasan pemerintah. Oktavianai Vika Ariska (3D)
Perayaan Sumpah Pemuda
Oleh: Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151




Teater Gema kembali menyelenggarakan sebuah acara yang bertajuk Sumpah Pemuda yang diselenggarakan di halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang acara dimulai pukul 09.00. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Sumpah Pemuda, acara diisi dengan orasi-orasi dari Teater Gema dan mahasiswa-mahasiwa yang datang untuk menyaksikan acara dari Teater Gema tersebut. Orasi yang dilontarkan dari para pembaca tentang perjuangan dan mengenai sumpah-sumpah para pemuda. Setiap mahasiswa yang datang diberikan subuah kertas dan menuliskan harapan untuk para pemuda di era sekarang, dan harapannya itu ditempelkan disebuah MMT putih. Disitu saya menuliskan harapan saya untuk para pemuda diera saat ini “Menjadi pemuda yang bermoral dan berakhlak baik”. Mengapa saya menulis harapan demekian? Itu karena saya melihat pemuda sekarang semakin tidak bermoral dan berakhlak, tidak mempuyai sopan dan santun pada orang yang lebih tua. Mau jadi apa bangsa ini jika pemudanya tidak bermoral dan berakhlak, padahal nasib bangsa kedepan ada ditangan mereka. Inilah yang menjadi PR untuk pada orang tua dan pendidik untuk menanamkan moral dan akhlak yang baik pada diri pemuda mulai sejak dini. Agar bangsa tidak bernasib muram jika pemuda mempunyai moral, akhlak dan pikiran yang cerdas maka nasib bangsa akan bernasib cerah. Teater Gema mengerakan hati mereka untuk selalu mengingat hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober . Acara yang patut diapresiasi namun tidak banyak yang datang untuk menyaksikan acara ini. Banyak harapan-harapan yang dipikulkan untuk para pemuda saat ini, nasib bangsa pun ada pada pundak para pemuda. Selain acara orasi Sumpah Pemuda yang diadakan oleh Teater Gema, ada juga acara yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni untuk menyambut Sumpah Pemuda yang dinamai dengan Gebyar Bulan Bahasa yang setiap tahunnya pasti diseleggarakan dan tahun ini BEM Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun-tahun sebelumnya semua mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diarak dengan mengenakan pakaian adat nusantara dan diadakan lomba yel-yel kelas. Untuk tahun ini mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diarahkan pada satu tempat yaitu di Balairung Universitas PGRI Semarang dan tetap mengenakan pakaian adat nusantara dan acara yang berlangsung sangat meriah karena ada 28 peserta lomba Festival Budaya yaitu menampilkan tari kreasi. Semua kelas yang mengikuti lomba sangat kreatif dan sangat luwes menarikan tarian yang mereka kreasikan. Acara yang begitu megah ini diawali dengan sebuah sajian yang dipersembahkan dari paduan suara, suara yang indah dan melengking menguncang dan membuat bulu kudu merinding dibuatnya. Salah satu lagu yang dibawakan adalah lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang begitu merdu dan indah. Paduan suara tersebut sebagai pembuka acra pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2016, setelah itu ada mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa dari Prancis menarikan tarian Cublak-cublak Suweng, Mahasiswi tersebut sangat luwes menariakan tarian tersebut, dilanjutkan dengan lawakan yang menjadi juara 1 seJawa Tengah, lawakan yang membuat penonton tertawa lepas. Dan tibalah acara inti pembukaan Festival Budaya dibuka olek Rektor Universitas PGRI Semarang dengan ditandai dengan memukul sebuah kendang besar. Untuk menilai tarian dari setiap penampil panitia mengundang 3 juri yang berbakat dalam bidangnya. Setelah acara dibuka oleh Rektor Universitas PGRI Semarang peserta nomor urut satu dipanggil untuk menampilkan tariannya, semua peserta menampilkan tariannya dengan sangat total. Namun tidak sedikit peserta yang mengreasikan tariannya dengan tarian ala barat, dan menurut saya tarian yang ditarikan itu kurang sopan jika ditarikan dikalangan mahasiswa calon pendidik. Ada yang menarik dalam Festival Budaya tahun 2016 ini yaitu dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa menampilkan tarian yang menggunakan Reog yang sangat khas dan tarian itu mendapatkan juara 3 terbayarlah kerja keras mereka. Tibalah saatnya nomor urut  24 yaitu dari kelas 3D menampilkan tari yang diberi nama tari egolan yang ditarikan oleh 5 orang mahasiswi, hingga nomor urut terakhir dan juri pun berunding. Selagi menunggu hasil keputusan juri panitia mengajak para peserta yang hadir untuk Flash mob, semua peserta ikut serta mengoyang panggung Balairung memeriahkan puncak acara semua peserta menari ria mengikuti irama music yang diputar oleh panitia. Setelah lagu pertama berakhir peserta merasa belum puas dan akhirnya diputar lagi. Sampai akhirnya juri telah mendapatkan keputusan dan langsung diumumkan yang berhak mendapat juara. Semoga acara seperti ini acara yang melestarikan sebuah sejarah yang perlu diingat dan di lestarikan setiap tahunnya harus diadakan agar generasi-generasi selanjutnya tetap tahu sejarah yang ada di Indonesia. Agar generasi-generasi selanjutnya tidak melupakan sejarah, agar tau bagaimana perjuangan para pahlawan. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan kuat. Semoga***
Mengajak Mahasiswa UPGRIS Untuk Bersastra
Oleh : Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151




Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Seni mengadakan sebuah acara UPGRIS Bersastra di Balairung Universitas PGRI Semarang pada tanggal 19 Oktober 2016, acara dimulai pukul 08.00 sampai dengan 12.00. UPGRIS Bersastra dilaksanakan dalam rangka Lounching Gebyar Bulan Bahasa, dalam UPGRIS Bersastra  ini membedah 3 buku, 3 pembaca, 3 kritikus dengan 1 pengarang yaitu bedah buku karya Triyanto Triwikromo dengan judul buku Bersepeda Ke Neraka, Selir Musim Panas dan Sesat Pikir Para BInatang. Acara UPGRIS Bersastra ini dimeriahkan oleh Rektor Universitas PGRI Semarang dengan pembacaan puisi, Wakil Rektor 1 Universitas PGRI Semarang dengan musikalisasi puisi, Biscuit Time dengan musikalisasi puisi, ada juga orasi dari Dr. Nur Hidayat, Drs. Prasetyo Utomo, M.Pd. dan Widyanuari Eko Putra, S.Pd. dengan Host Dr. Harjito. Masih banyak lagi persembahan yang ada dalam UPGRIS Bersastra, persembahan yang cukup menghibur para penonton. Rektor Universitas PGRI Semarang membacakan sebuah puisi yang indah bahkan Rektor Universitas PGRI Semarang memainkan gitar dan menyantikan lagu ciptaannya. Wakil Rektor 1 musikalisasi puisi dengan seorang mahasiswa yang diiringi tembang jawa dibawakan dan dikemas sedemikian rupa hingga terdengar sangat indah. Apalagi ketika mendengar nada-nada gitar yang dimainkan oleh personil Biscuit Time dan suara yang merdu membuat para penonton terbawa suasana dan ikut bernyanyi ada 5  musikalisai puisi yang dibawakan oleh Biscuit Time. Ada pula dramatisasi puisi dari mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang terkemas memukau banyak pasang mata. Ada pula kolaborasi musikalisasi puisi yang diiringi tarian indah, gerakan-gerakan yang begitu indah musikalisasi puisi yang merdu seakan menyatu menjadi sebuah persembahan yang begitu menarik. Setelah beberapa persembahan dihadirkan diatas panggung lanjut pada orasi dari 3 pembaca, yaitu dari Dr. Nur Hidayat, Drs. Prasetyo Utomo, M.Pd. dan Widyanuari Eko Putra, S.Pd. dengan acara yang dipandi oleh Dr. Harjito. Agar penonton tidak merasa bosan orasi diselingi dengan penampilan Biscuit Time dengan lantunan puisi dan suara yang merdunya itu Biscuit Time menghibur para penonton yang merasa bosan dan jenuh, dengan penampilan Biscuit Time pula dapat mencairkan suasana yang panas setelah orasi berlangsung. Acara yang berlangsung untuk membuka bulan bahasa ini sudah cukup untuk menarik dan acara selesai pukul 12.00. yang membuat menarik acra UPGRIS Bersastra ini adalah bedah buku dari Triyanto Triwikromo, mahasiswa tertarik pada buku barunya dan di dalam acara tersebut ada juga pameran buku yang diselenggarakan oleh Gramedia. Yang menyediakan tiga judul buku dari Triyanto Triwikromo. Seusai acara mahasiswa dapt membeli buku yang mereka inginkan dan dapat meminta tanda tangan dari Triyanto Triwikromo. Seusai acara berlangsung banyak mahasiswa yang masih tinggal di tempat acara entah itu mau meminta tanda tangan atau sekedar berfoto ria dalam ruangan acara. Acara Lounching Gebyar Bulan Bahasa berbeda tahun lalu, dulu Lounching Gebyar Bulan Bahasa dengan menonton bersama film Soekarno. Tahun ini juga ada acara lomba stand up comedi dan lomba pidato sejawa tengah. Panitia sudah mengemas dengan apik acara yang akan diselenggarakan pada puncaknya nanti semua mahasisiwa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dikumpulkan dalam satu ruangan yaitu di Balairung Universitas PGRI Semarang dengan berpakain adat nusantara. Pada acara puncak bulan bahasa yang tentunya berbeda pula dengan tahun lalu, tahun lalu puncak dari bulan bahasa yaitu kirab budaya mahasiswa berpakaian adat nusantara dan dikirab, yang dilombakan pada acara puncak bulan bahasa tahun lalu adalah yel-yel kelas. Untuk tahun ini yang dilombakan adalah tari kreasi namun tetap ada persamaan dari tahun ke tahun dalam aca puncak bulan bahasa yaitu pakaian yang bertemakan pakaian adat nusantara. Pakaian adat nusantara memberikan wadah mahasiswa yang kreatif, dan puncak bulan bahasa dijadikan wadah untuk menuangkan ide-ide kreatif mereka dalam mengkonsep pakaian kelas mereka agar terlihat kompak dan menarik. Acara puncak bulan bahasa ini seperti aacara pesta adat yang semua mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni bersuka ria menikmati rangkaian acara satu per satu hingga acara telah usai namun rangkaian acara puncak bulan bahasa akan terus melekan dalam pikiran mereka karena setiap tahunya akan diadakan acra bulan bahasa mulai dari pembukaan dan puncak. Biasanya acara bulan bahasa dilaksanakan bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Namun kali ini puncak bulan bahasa dilaksanakan sehari sebelum hari Sumpah Pemuda. Acara yang berlangung dari tahun ketahun ini tidak akan pernah ada perbedaan yang sangat jauh setiap tahunya pasti aka nada acara yang hamper sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Acara bulan bahasa mulai dari Lounching Gebyar Bulan Bahasa hingga Puncak Bulan Bahasa dijadikan masiswa sebagai hiburan tersendiri bagi mahasiwa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang. Tentunya tidak ada acara yang sukses dilaksanakan tanpa perjuangan dari panitia yang bekerja keras untuk menyelenggarakan acara yang besar.  
UlasanTentang Jaka Tarub dan Balada Sumarah
Oleh : Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151




UKM Tearer Gema mempersembahkan pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah pementasan tersebut dilaksanakan di Gedung Pusat Lantai 7. Pementasan teater Gema dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2016. Tokoh dalam cerita Jaka Tarub ada Jaka Tarub, sahabat Jaka Tarub, Nawang Wulan, Para Bidadari, Nawangsih, Mbok Sri, Tomo dan Topo. Cerita Jaka Tarub diawali dengan Jaka Tarub bermimpi anaknya akan tiada, lalu sang anak yang bernama Nawangsih langsung menghampiri ayahnya yang telah mengalami mimpi buruk dan membawakan air minum untuk ayahnya agar ayahnya merasa tenang setelah minum. Setelah itu Nawangsih bertanya apa yang dimimpikan ayahnya hingga membuat ayahnya histeris dan mengapa ayahnya bermimpi buruk saat bulan purnama saja. Lalu sang ayah menunjuk bulan purnama lalu bertanya pada “Nawangsih indah bukan bulan purnama itu nak?”, “iya sangat indah pak” Jawab Nawangsih. Jaka Tarub menjelaskan bagaimana ibunya yang sangat mirip dengan Nawangsih, Nawangsih masuk kedalam rumah karena sudah merasa ngantuk. Jaka Tarub masih tetap di depan rumah memandangi bulan purnama dan membayangkan awal dia bertemu dengan Nawang Wulan. Saat itu Jaka Tarub sedang berburu di hutan tetapi tidak ada binatang buruan satupun lalu Jaka Tarub merasa lelah dan beristirahat di samping batu besar hingga tertidur. Para bidadari di atas langit memandangi bumi dan ingin turun ke bumi ketika para bidadari melihat mata air dan ingin mandi di mata air tersebut. Akhirnya mereka turu ke bumi dan mandi di mata air tersebut, Jaka Tarub melihat para bidadri itu dengan wajah yang kaget dan kagum tidak berpikir panjang ia mengambil salah satu slendang yang ada di atas batu. Seteh mereka lelah bermain-main air mereka naik ke darat dan memakai selendangnya masing-masing untuk terbang ke kayangan, tetapi selendang Nawang Wulan tidak ada di tempat Nawang menaruh selendangnya. Nawang Wulan sudah mencari disekitar tempat ia menaruh selendang tetapi tetap tidak ada dan sudah dibantu pula oleh adik-adiknya. Hari sudah mulai pagi dan para bidadari sudah harus pulang kekayangan, tetapi adik-adik Nawang Wulan tidak tega pada Nawang Wulan. Nawang Wulan meyakinkan adik-adiknya bahwa dia akan baik-baik saja di bumi, adik-adik Nawang Wulan pulang dengan sedih. Nawang Wulan kembali berendam kembali di mata air sambil berkata “siapapun yang mau memberiku pakain untukku jika ia perempuan aka ku jadikan saudara jika ia laki-laki akan ku jadikan suami”, Jaka Tarub mendengar perkataan Nawang Wulan ia bergegas pulang dan mengambil pakaian ibunya untuk diberikan Nawang Wulan dan menaruh selendang Nawang Wulan di tempat penyimpan beras. Jaka Tarub kembali ke mata air dan memberikan pakainnya kepada Nawang Wulan, Nawang Wulan pun menepati janjinya untuk menikah dengan Jaka Tarub. Menikahlah mereka dan Nwang Wulan pun hamil tidak lama Nwang Wulan melahirkan dengan bantuan Mbok Sri, Nawang Wulan melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Nawangsih. Pada suatu hari Nawang Wulan hendak ke sungai untuk mencuci baju dan berpesan pada Jaka Tarub untuk menjaga Nawangsih dan menjaga api agar tidak mati yang sedang memasak nasi dan Jaka Tarub dilarang Nawang Wulan membuka penutup penenak nasinya, tetapi Jaka Tarub semakin penasaran mengapa tidak boleh membuka penutup penenak nasi tersebut. Jaka Tarub membuka penutup itu dan heran mengapa hanya sebatang padi yang dimasak oleh istrinya. Nwang Wulan pulang dan ditanya oleh Jaka Tarub mengapa hanya memasak sebatang padi saja, Nawang Wulan kaget dan marah pada JakaTarub dan membuka penyimpanan beras ternya di dalamnya ada selendang Nawang Wulan, pulanglah Nwang Wulan ke kayangan meski Jaka Tarub sudah memohon untuk tidak pergi. Dari cerita di atas banyak sekali pesan yang dapat dipetik seperti, tidak boleh mengingkari janji yang sudah diucapkan. Mengapa harus kebongan yang dijadikan alasan untuk mencintai seseorang jika ada alasan lain. Pesan yang disampaikan para pemain Jaka Tarup ini memang langsung mengenai hati para penonton. Hingga para penonton terbawa perasaannya, itu artinya pesan yang akan disampaikan para pemain tersampaikan dengan baik. Pesan dapat tersampaikan dengan baik itu karena para pemain, memainkan peran dengan penuh perasaan dan total dalam memerankan perannya. Itu artinya pementasan teater gema ini berhasil mencapai tujuan yaitu respon yang positif dari penonton. Perisiapan untuk menuju pementasan ini hanya membutuhkan waktu 1 minggu, saya mewawancarai salah satu pemain Jaka Tarub yang berberan sebagai Nawang Wulan menyatakan bahwa “persiapan untuk pementasan ini hanya 1 minggu dan pemeran Nawang wulan ini puas akan pementasan yang telah terselenggara”. Selain Jaka Tarub teater Gema juga mempersembahkan Balada Sumarah yang isi ceritanya Sumarah adalah anak seorang PKI yang tidak dianggap di lingkungannya, yang akhirnya ia menjadi TKW di Arab ketidakadilan ia alami gajinya selamaa satu tahun tidak keluar dan musibah besar menimpa dirinya majikan laki-lakinya tega melakukan hal yang sangat keji. Sumarah membalas perbuatan majikan itu dengan membunuh majikannya dan akhirnya Sumarah menjadi tahanan yang mendapatkan hukuman mati. Balada Sumarah ini menjadi juara satu di PEKSIMIDA tingkat Jawa Tenggah dan akan maju ke tingkat nasional. Pemeran Sumarah juga sangat hebat dalam memerankan Sumarah, menyampaikan pesan dengan sangat baik melalui akting yang total maka tidak heran jika para penonton mengganga melihat persembahan yang begitu luar biasa. Di balik hasil yang memukau pasti ada sebuah pengorbanan yang besar pula, pengorbanan tersebut adalah dari latihan yang harus sering dilakukan dan tentu pengorbanan dari sutradaranya yang ikut andil pula dalam pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah ini. Sudah sangat berhasil.  
Mengangkat Kembali Jaka Tarub dan Balada Sumarah
Oleh : Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151\




Saya setuju dengan ulasan yang disampaikan oleh Mia Muharromah bahwa Teater Gema UPGRIS membuat kagum banyak pasang mata, karena saya pun kagum dengan persembahan dari Teater Gema itu. Setelah saya mewawancarai salah satu pelakon Jaka tarub di balik kesuksesan Teater Gema melakonkan Jaka tarub dan Balada Sumarah ada pengorbanan dari setiap pelakon. Pengorbanan waktu dan tenaga itu pasti namun, para pelakon tidak merasa terbebani untuk mengorbankan waktu dan tenaga mereka. Dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mereka melakonkan Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Penonton dengan sendirinya ingin menonton bukan karena diwajibkan oleh dosen pengampu untuk menonton. Bukan hanya pelakon yang berkorban tetapi penonton juga berkorban waktu, tenaga dan biaya. Karena tiket untuk bisa menonton Jaka Tarub dan Balada Sumarah tidaklah gratis, tetapi dijual seharga Rp. 3.000. Banyak hal dan pesan yang dapat dipetik dari persembahan Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Entah itu pesan tersirat maupun tersurat dan pesan yang disampaikan itu sudah tersampaikan kepada para penonton dengan melihat respon dari para penonton. Anak sekarang menyebutnya dengan “Baper” atau terbawa suasana karena tidak hanya mahasiswa UPGRIS yang menonton tetapi ada juga pelajar dari SMA N 1 Gresik dan SMK 5 Semarang. Nampak para pelajar asik menikmati persembahan dengan khitmat, setelah persembahan usai mereka asik mengambil gambar dengan para pelakon. Nampak sangat antusias setelah menyaksikan persembahan, dan antusias itu semakin menjadi-jadi saat Balada Sumrah tampil saya sebagai mahasiswa UPGRIS bangga melihat respon para pelajar itu. Persembahan ini pun sudah masuk dalam surat kabar dalam bentuk blog yaitu Papanindonesia. Mungkin ada juga seteleh menyaksikan menjadikan persembahan itu inspirasi dan terciptalah sebuah karya baru. Mungkin dalam ulasan Mia Muharromah hal ini belum diulas oleh karena itu, kali ini saya mengulas lebih dalam mengenai Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Para pelakon sangat total melakonkan Jaka Tarub dan yang memerankan Sumarah sungguh sangat keren menurut saya, bahkan saya dibuat mengangga olehnya, sangat berkesan dan terkemas sangat apik. Pantas mendapatkan juara 1 dalam PEKSIMIDA 2016, karena memang pantas dan terbayar pengorbanan pelakon dan sutradara Balada Sumarah karena sutradara Balada Sumarah ini rela menunda wisudanya untuk menyutradarai Balada Sumarah ini. Pelakon dan sutradara Balada Sumarah harus berjuang kembali dalam PEKSIMINAS 2016. Doa terbaik terlontar dari setiap orang yang peduli dengan sastra, semoga doa terbaik itu terwujud. Tidak hanya hal-hal yang baik yang dapat dipetik tetapi banyak pelajaran yang dapat saya ambil yaitu mengenai bangaimana menghayati suatu drama dengan baik, bagaimana memerankan tokoh dalam suatu drama dengan baik dan bagaimana membawakan diri pada suasana yang diinginkan oleh stutradara. Ini tidak pertama kalinya saya menyaksikan sebuah teater yang dipersembahkan oleh Teater Gema jadi banyak ilmu yang saya dapat dari setip pementasan. Ilmu tersebut akan bermanfaat untuk saya, karena pada semester 4 nanti saya akan mendapat mata kuliah Drama. Jadi akan mempermudah saya dalam mata kuliah drama itu sendiri. dalam drama kita harus berani dan berusaha seperti yang dikatakan Mia Muharromah dalam ulasannya “jika ingin sukses harus berani bersusah susah dahulu dan harapan mbak Eva semoga bisa menjuarai tingkat nasional,itu doa kita semua, Semoga teater Gema tetap Berjaya dan terus meningkatkan karya-karya nya dalam seni berteater dan memberikan inspirsi bagi seluruh mahasiswa Universitas PGRI Semarang” pesan dari mbak Eva sutradara Balada Sumarah. Teater Gema mengemas kembali cerita rakyat yang sudah sering saya dengar dan saya sudah melihat di Televisi, teater Gema mengemas sedemikian rupa dan menjadi lebih singkat. Di pementasan Jaka Tarub inipun juga diselingi lawakan dari ulasa Mia Muharromah menyampaikan “lawak yang berperan sebagai Tomo dan Topo dia berlakon sebagai warga sekitar yang ingin mencalonkan diri sebagai Lurah. Lawakan mereka pun sangat menghibur para  penonton, namun bukan hanya lawakan saja yang diberikan , ada unsure nasihat yang bisa dipetik dari lakon yang mereka mainkan yaitu jika hendak jadi pemimpin harus ramah,santun,bijaksana dan ada satu dialog yang mengucapkan salam dan menjawab salam, umum nya jika Topo yang mengucapkan salam, maka Tomo lah yang menjawab, namun di dialog ini Topo yang megucapkan salam dan Topo lah yang menjawab nya, dan pesan dari dialog ini adalah “yang Sunnah saja di kerjakan masa yang Wajib aku Tinggalkan” mengucap salam adalah sunnah dan menjawab salam adalah wajib. Setelah kata kata itu keluar dari mulut Topo yang diperankan oleh seoarang laki laki berbadan gemuk , penonton langsung tertawa dan memberikan applause yang meriah untuk Topo. Adegan lawak seperti ini memang harus ada di sebuah pertunjukkan, supaya penonton tidak bosan dengan alur ceritanya”. Seperti lawakan dalam sebuah pementasan ini penting karena bisa menghilangkan rasa bosan dan jenuh dari para penonton yang ceritanya pun sudah sering didengar oleh para penonton.
Nama : Oktaviani Vika Ariska
Kelas : 1D
NPM : 15410151

Respon “Apresepsi, Lima Menit Penentu Masa Depan”

Setiap pembelajaran yang dilakukan seorang guru di dalam kelas secara umum menggunakan demonstrasi atau biasa dikenal dengan ceramah. Dalam kegiatan pembelajaran terdapat kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pembelajaran dapat member kesan yang menyenangkan atau bahkan membosankan bagi peserta didik. Untuk itu, harus dirubah presepsi pesrta didik bahwa pembalajaran itu membosankan dengan apresepsi.

Apresepsi, lima menit penentu masa depan masksudnya adalah pada saat KBM berlangsung seorang guru memberikan yang berkaitan dengan sesuatu yang pernah dialami oleh peserta didik, yang menjadi dasar untuk menerima materi baru. Pesrta didik membutuhkan apresepsi agar peserta didik lebih tertarik dan senang sehingga pesrta didik tidak merasa bosan.

Untuk itu, guru dapat memodifikasi cara mengajar dengan menggunakan apresepsi, dengan pembelajaran yang inovatif. Suatu proses yang menentukan hasil, apresepsi yang menjembatani peserta didik untuk menuju hasil yang akan dicapai. Keberhasilan itu harus dilalui oleh peserta didik yang memerlukan pemikiran yang matang. Kegagalan sering terjadi tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mencapai hasil yang maksimal.

Apresepsi menjadi sangat penting sebagai pembuka pembelajaran. Penyampaian aprespsi yang inovatif  dan menarik dapat dilakukan dengan berbaigai cara salah satu contoh seorang guru menyisipkan motivasi-motivasi, dan informasi-informasi yang sedang ramai diberitakan. Dapat juga untuk menyampaikan sebuah materi dengan menyajikan sebuah audio visual agar peserta didik lebih tertarik dan peserta didik akan lebih memperhatikan.

Memberikan motivasi kepada peserta didik untuk gemar membaca itu juga sangat penting untuk saat ini karena pesrta didik lebih suka membaca sms atau sosmed yang lain dengan seiring perkembangan IPTEK pola piker pesrta didik pun berubah. Kebudayaan membaca harus dibangkitkan di kalangan pesrta didik karena dengan membaca peserta didik dapat memperoleh penegetahuan yang luas.

Motivasi yang lebih mempengaruhi pesrta didik utuk lebih semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi sebuah masalah dalam KBM. Dalam suatu proses pasti ada kegagalan dan kegagalan dalam belajar itu wajar. Dan motivasi harus diterapkan saat ada kegagalan dalam pembelajan pesrta didik. Melalui kegagalan itulah pesrta didik akan mendapatkan hasil yang baik.

Penyampain motivasi tidak hanya dengan kata-kata yang memotivasi saja tetapi juga harus dengan sebuah kejadian yang nyata atau cerita yang nyata yang membawa peserta didik mengalami sebuah kejadian yang sulit sehingga membuat peserta didik seperti mendapat motivasi dengan sendirinya. Dapat dilakukan dengan guru mumutarkan video atau film yang memotivasi pesreta didik, tanpa guru harus menuturkan kata-kata motivasi peserta didik sudah

Apresepsi lain tidak hanya pendidikan akademik yang harus dimatangkan tetapi peserta didik juga membutuhkan pendidikan karakter dalam masyarakat. Jadi dengan pendidikan jangan hanya menjadikan peserta didik pintar secara akademik tetapi juga karekter. Menjadikan peserta didik mengerti tengan sopan-santun, taat pada agama, hormat kepada guru, dan mengasihi kedua orang tua. Karena Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang sekedar pintar secara akademik tetapi juga karakter.

Untuk masa depan yang lebih baik pendidikan karakter harus ditingkatkan di sekolah-sekolah. Kita 
Negara yang beradab jadi jangan cemari bangsa kita dengan pendidikan yang tidak berkarakter. Dengan pendidikan yang saat ini sedang gencar diutamakan di Indonesia dapat membawa bangsa yang besar dan disegani di kacah dunia.  

Jadi, tidak hanya apresepsi motivasi, brita aktual tetapi juga pendidikan karakter juga harus diterapkan di dalam sebuah pembelajan. Peserta didik juga membutuhkan pendidikan karakter untuk dapat memajukan pendidikan yang ada di Indonesia.

Penyampain apresepsi dengan berita atau informasi-informasi yang sedang ramai dibicarakan itu akan membuat pesertadidik lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan tidak mementingaka diri sendiri.

Jadi, definisi guru tidak hanya sebagai pendidik tetapi juga sebagai pembimbing atau memberikan inpirasi kepada peserta didik. Dalam arti pendidik atau guru tidak hanya sekedar memberika materi pembelajaran tetapi juga harus memberikan suatu apresepsi. Sehingga di dalam pembelajaran tidak hanya materi pembelajaran saja yang diterima oleh peserta didik tetapi juga ada motivasi dan pendidikan karakter yang bisa diterima oleh peserta didik.  Ini akan menjadikan peserta didik pintar secara akademik tetapi juga akan menjadi manusia yang berkarakter. Oleh karena itu seorang pendidik dituntut sebagai pendidik dan pembimbing. Jika seorang pendidik tidak memiliki karakter (sopan-santun) lalu bagai mana peserta didiknya.

Oleh karena itu, dimunculkan lah apresepsi, lima menit penentu masa depan. Meskipun dalam waktu yang singkat jika materi atau ilmu (akademik dan karakter) itu sangat penting untuk peserta didik. Dan semoga apresepsi ini akan berjalan degan lancer dan sukses.


Dunia Pertelevisian Yang Semakin Berantakan

Oleh: Oktaviani Vika Ariska/15410151/3D


Saya Oktaviani Vika Ariska Setuju dengan tulisan Tri Pujiati yang berjudul Ibu, Televisi dan Generasi Internet. Memang benar yang dikatakan Tri Pujiati bawasannya televise saat ini kebanyakan menyiarkan hal-hal yang tidak mendidik bahkan banyak stasiun televise yang mempertontonkan sesuatu yang tidak senonoh dan tontonan tersebut ditayangkan pada siang hari pada saat anak-anak sedang menonton televise. Memamng benar stasiun televise saat ini memang hanya menginginkan keuntungan saja. Banyak stasiun televise tidak memperhatikan pendidikan anak dan perkembangan anak Indonesia sangat penting untuk membentuk Generasi Penerus bangsa. Lalu, jika tontonan yang dipertontonkan hal yang tidak mendidik untuk anak-anak saat ini. Peran seorang ibulah yang harus membimbing anak-anaknya untuk menonton televise yang memberikan edukasi, seperti Laptop si Unyil itu adala tontonan yang mendidik anak-anak selain belajar dalam Laptop si Uyil juga bermain . Jadi, tidak melulu belajar tapi televise yang mengedukasi seperti itu sudah semakin jarang bahkan sudah hamper punah. Memang peran ibu saat ini sangat penting, tugas ibu saat ini lebih berat dari ibu-ibu pada jaman dahulu pada saat dunia pertelevisian seperti ini. Mengapa televise menjadi pengaruh terbesar bagi pendidikan anak-anak pada saat ini? Itu karena hampir semua masyarakat Indonesia menonton televisi. Tugas pemerintah untuk membenahi tontonan televisi, perteleviasian Indonesia harus diperbanyak tontonan yang mengedukasi anak-anak bukan yang menghancurkan moral anak-anak Indonesia. Bukan hanya televise yang perpengaruh besar pada moral anak Indonesia tetapi juga internet. Mengingat penguna internet terbesar kedua setelah televisi internet juga mempunyai pengaruh besar bagi anak-anak Indonesia. Tetapi banyak yang menyalahgunakan internet, banyak kasus yang terjadi melalui internet. Entah itu kriminak maupun penipuan dan penurunan moral anak-anak bangsa. Pengunggahan video-video yang tidak senonoh dan telah ditonton oleh anak-anak belum cukup umur untuk melihat hal tersebut. Hal semacam itulah yang membuat mental atau moral anak-anak menjadi buruk. Bukan hanya video-video tidak senonoh saja tetapi film atau video yang ada di televisi maupun yang ada di internet tetapi juga tindak kekerasan yang ditirukan oleh anak-anak itula yang semakin memperburuk keadaan moral anak-anak Indonesia memburuk. Lagi-lagi peran ibu sangat penting dalam mengawasi anak-anak dalam menggunakan internet. Jangan sampai anak-anak salah menggunakan internet yang pada dasarnya mempunyai manfaat yang positif tidak hanya negatif. Namun saat ini lebih banyak negatifnya dari pada positifnya. 

Kutukan untuk Pemalsu Vaksin
Oleh Setia Naka Andrian



Banyak pihak sangat menyayangkan terhadap tindakan pemalsuan vaksin yang sementara ini peredarannya dikendalikan oleh tiga produsen, yakni Agus, Syariah, serta pasanga suami-istri Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Hingga saat ini semua tersangka masih dikenai tindak pidana pencucian uang. Penyidik melacak semua aset tersangka. Selain itu, semua tersangka juga dikenai pasal berlapis karena melanggar Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Kejadian keji ini begitu menggetarkan seantero dada para orangtua di negeri ini, lebih-lebih bagi para ibu yang setiap waktu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk kesehatan dan pertumbuhan buah hatinya. Segalanya pasti akan siap dikorbankan untuk kebutuhan kesehatan anak-anaknya. Beberapa waktu ini pun begitu ramai di berbagai media sosial, semua orang seakan mengecam tindakan yang dilakukan para pemalsu vaksin tersebut. Seperti halnya Change.org Indonesia pun dengan lantang melayangkan petisi dengan seruan, “@KemenkesRI @NilaMoeloek Selamatkan nyawa Balita Indonesia, Usut Tuntas #VaksinPalsu!
Petisi tersebut berisi,  1) Mendukung penyidikan kasus ini, meminta agar POLRI dapat membasmi secara tuntas tindakan pemalsuan vaksin dan mendukung penindakan yang tegas pada para pelaku. 2) Meminta Pemerintah, Bareskrim dan pihak berwenang lainnya untuk menarik semua vaksin yang saat ini beredar dan menggantinya dengan vaksin yang ASLI dan AMAN guna menjamin keamaan dan perlindungan kesehatan bayi-balita Indonesia. 3) Meminta Pemerintah, Bareskrim dan pihak berwenang lainnya untuk mengumumkan nama-nama distributor, Rumah Sakit, Klinik atau tempat kesehatan lainnya yang terindikasi dan/terbukti menggunakan vaksin palsu. 4) Mendorong Pemerintah untuk melakukan vaksin ulangan terhadap anak-anak yang lahir antara tahun 2003 – 2016 guna menjamin generasi indonesia yang sehat dan bebas penyakit berbahaya. 5) Mendorong BPOM untuk lebih agresif dalam mengawasi dan memfilter distribusi vaksin dan obat-obatan pada umumnya.
Minggu lalu di Nusa Dua, Bali (26/6), Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan, anak balita yang telah mendapatkan vaksin palsu perlu diimunisasi ulang. Sebab di tubuh mereka tak terbentuk kekebalan. Imunisasi ulang pada anak usia 10 tahun dimungkinkan. Yang pasti, segala ini sangat tidak dibenarkan, karena menyangkut keberlangsungan kesehatan bagi anak-anak yan tentunya merupakan generasi penerus bangsa dan negara ini. Lebih-lebih hingga saat ini 194 negara menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat dan kematian akibat penyakit berbahaya. Melalui imunisasi yang lengkap dan teratur dimasukkan ke dalam tubuh bayi-balita, maka akan timbul kekebalan spesifik yang mampu mencegah penularan, wabah, sakit berat, cacat atau kematian akibat penyakit-penyakit tersebut. Setelah diimunisasi lengkap, bayi-balita masih bisa tertular penyakit-penyakit tersebut, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya, dan jarang menularkan pada bayi-balita lain sehingga tidak terjadi wabah.
Ini sebuah kasus yang tidak boleh disepelekan begitu saja. Pemerintah memberi perhatian khusus. Pihak-pihak yang berwenang harus mengusut hingga tuntas. Bahkan hingga saat ini, (Kompas, 28/6) polisi telah menetapkan 15 tersangka di sejumlah kota, seperti Jakarta, Tangerang Selatan (Banten), Subang dan Bekasi (Jabar), serta Semarang. Polisi juga memeriksa 18 saksi dari rumah sakit, apotek, toko obat, dan saksi yang terlibat dalam pembuatan vaksin palsu. Hasilnya, terungkap empat rumah sakit di Jakarta serta dua apotek dan satu toko obat di Jakarta terlibat peredaran vaksin palsu. Bayangkan saja, yang lebih mengerikan lagi ternyata tindakan pemalsuan vaksin ini telah dilakukan sejak tahun 2003, maka dapat kita ungkap bahwa sindikat pemalsu vaksin ini telah beroperasi selama 13 tahun dan telah tersebar ke beberapa daerah di Indonesia.
Sungguh sangat mengerikan, beberapa itu baru yang ditemukan, lalu bagaimana dengan yang masih aman, yang masih beroperasi mengedarkan dan mengonsumsi vaksin-vaksin palsu. Bagaimana nasib anak-anak di negeri ini, yang seharusnya sangat membutuhkan kekebalan untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat dan kematian akibat penyakit-penyakit berbahaya. Umpatan, kutukan, tangis, bahkan doa-doa buruk bermunculan dari para ibu kepada mereka para pelaku. Sepertinya, jika melihat kasusnya yang tidak hanya penipuan semata, tidak hanya pemalsuan semata, namun sudah menyangkut keselamatan banyak nyawa. Kasus ini pun sudah sangat direncanakan, secara tidak langsung inilah perencanaan membunuh, tidak hanya nyawa seorang, namun nyawa dari jutaan orang, jutaan generasi penerus bangsa dan negara ini. Maka, belum adil jika para pelaku hanya mendapatkan hukuman mati saja. Apalagi hanya dipenjara puluhan tahun, atau hanya didenda saja. Semoga hukum ditegakkan setegak-tegaknya untuk kasus ini. Semoga dan semoga.***


Setia Naka Andrian, Penyair kelahiran Kendal, Dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Penulis Buku Puisi Perayaan Laut (April 2016).




Saya Oktaviani Vika Ariska setuju dengan opini Setia Naka Adrian yang berjudul “Kutukan Untuk Pemalsu Vaksin” bawasanya vaksin palsu yang telah beredar mulai dari 2013 hingga sekarang merupakan tindakan pidana yang sangat berat memang sudah seharusnya pemalsu dan pengedar vaksin palsu dihukum setimpal dengan perbuatannya, karena tidak hanya satu atau dua nyawa yang mereka bahayakan tetapi bayi-balita di beberapa daerah di Indonesia. Tentunya hukuman yang harus diterima pemalsu dan pengedar vaksin palsu tidaklah sama dengan kasus ini dengan kasus yang dialami oleh Nenek Asyani yang mencuri 2 batang pohon kayu jati saja divonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan 1 tahun 3 bulan dan denda Rp 500 juta.   Apa lagi mereka yang membehayakan kesehatan bayi-balita di Indonesia, tentu harus lebih berat hukuman yang mereka terima. Harapan dari semua korban vaksin palsu tindak lanjut kepolisian untuk mengusut kasus ini hingga tuntas dan member pertanggungjawaban pada korban vaksin palsu. Minggu lalu Liputan6.com, Jakarta(20/9), akhirnya Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri telah menyelesaikan berkas perkara penyidikan vaksin palsu. Bentuk pertnggungjawaban rumah sakit yang sudah mendata pasien yang menjadi korna vaksin palsu segera memberika vaksin atau imunisasi ulang dengan vaksin yang asli. Karena dengan vaksi atau imunisasi dapat menjadikan bayi-balita Indonesia generasi yang sehat, kuat dan cerdas utuk memajukan bangsa Indonesia. Lebih-lebih hingga saat ini 194 negara menyatakan bahwa imunisasi terbukti aman dan bermanfaat untuk mencegah sakit berat, wabah, cacat dan kematian akibat penyakit berbahaya. Para orang tua korban vaksin palsu terutama ibu sangat cemas memikirkan bagaimana kesehatan anak mereka dan mereka berharap pada pemerinta untuk memberikan keadilan pada bayi-balita mereka. Karena tak jarang hukum di Indonesia dapat dibeli dengan uang. Untuk kasus ini kita berharap pemerintah dapat dengan bijak menuntaskan kasus tanpa mengecewakan korban. Untuk kasus ini banyak sekali orang yang menghina, mendoakan dan bahkan mengutuk para pemalsu vaksin karena mereka sangat meresahkan. Jika ada peredaran yang belum teridentifikasi oleh kepolisian semoga segera teridentifikasi agar para bayi-balita selamat dari vaksin-vaksin palsu tersebut. “Maka, belum adil jika para pelaku hanya mendapatkan hukuman mati saja. Apalagi hanya dipenjara puluhan tahun, atau hanya didenda saja. Semoga hukum ditegakkan setegak-tegaknya untuk kasus ini” seruan Setia Naka Adrian di wawasan (26/7). Memang benar belum adil apabila dibandingkan dengan sang Nenek renta yabg mencuri 2 batang pohon jati saja dihukum penjara 1 tahun dan denda Rp 500 juta, lalu hukuman apa yang pantas untuk rencana pembunuhan yang tidak hanya satu nyawa namun nyawa dari jutaan generasi penerus bangsa Indonesia ini. Kasus vaksin palsu yang cukup menggeger para orang tua bahkan terjadi demo di rumah sakit-rumah sakit yang menggunakan vaksin palsu. Aksi demo ini dilakukan para orang tua karena mereka cemas akan keadaan bayi-balita mereka, amarah yang juga dirasakan para orang tua ketika pihak rumah sakit belum memberikan kepastian kepada para orang tua korban vaksin palsu. Semoga harapan terbaik dari para orang tua korban vaksin dapat terwujud dan Indonesia bisa terbebas dari ancaman penyakit dan wabah berbahaya.  

Sabtu, 17 Desember 2016

Saya setuju dengan Setia Naka Andrian mengenai Menimbang (Ketiadaan) Ujian Nasional memang Ujin Nasional menjadi momok ketakutan bagi para siswa kita tidak sedikit kasus bunuh diri yang dilakukan siswa yang disebabkan takut tidak lulus ujian dan banyak pula siswa yang depresi akibat tidak lulus ujian. Memang harus dipertimbangan dengan matang masalah ujian ini. Tetapi menunurut saya ujian harus tetap diadakan karena dengan ujina siswa dapat berkompetisi namun, hasil UN tidak 100% yang menentukan kelulusan. Agar ujian tidak menjadi momok ketakutan siswa, tetapi jangan membuat siswa malah menjadi menganggap enteng UN atau meremehkan UN. Harus ada suatu tingkatan yang membuat siswa bepikir harus bisa melewati UN meskipun UN tidak menjadi penentu kelulusan. Apapun keputusan pemerintah, semoga menjadi yang terbaik untuk masyarakat dan masyarakat menerima keputasan pemerintah. Oktavianai Vika Ariska (3D)
Saya setuju dengan Setia Naka Andrian mengenai Menimbang (Ketiadaan) Ujian Nasional memang Ujin Nasional menjadi momok ketakutan bagi para siswa kita tidak sedikit kasus bunuh diri yang dilakukan siswa yang disebabkan takut tidak lulus ujian dan banyak pula siswa yang depresi akibat tidak lulus ujian. Memang harus dipertimbangan dengan matang masalah ujian ini. Tetapi menunurut saya ujian harus tetap diadakan karena dengan ujina siswa dapat berkompetisi namun, hasil UN tidak 100% yang menentukan kelulusan. Agar ujian tidak menjadi momok ketakutan siswa, tetapi jangan membuat siswa malah menjadi menganggap enteng UN atau meremehkan UN. Harus ada suatu tingkatan yang membuat siswa bepikir harus bisa melewati UN meskipun UN tidak menjadi penentu kelulusan. Apapun keputusan pemerintah, semoga menjadi yang terbaik untuk masyarakat dan masyarakat menerima keputasan pemerintah. Oktavianai Vika Ariska (3D)