UlasanTentang
Jaka Tarub dan Balada Sumarah
Oleh
: Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151
UKM Tearer Gema
mempersembahkan pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah pementasan tersebut
dilaksanakan di Gedung Pusat Lantai 7. Pementasan teater Gema dilaksanakan pada
tanggal 4 Oktober 2016. Tokoh dalam cerita Jaka Tarub ada Jaka Tarub, sahabat
Jaka Tarub, Nawang Wulan, Para Bidadari, Nawangsih, Mbok Sri, Tomo dan Topo.
Cerita Jaka Tarub diawali dengan Jaka Tarub bermimpi anaknya akan tiada, lalu
sang anak yang bernama Nawangsih langsung menghampiri ayahnya yang telah
mengalami mimpi buruk dan membawakan air minum untuk ayahnya agar ayahnya
merasa tenang setelah minum. Setelah itu Nawangsih bertanya apa yang dimimpikan
ayahnya hingga membuat ayahnya histeris dan mengapa ayahnya bermimpi buruk saat
bulan purnama saja. Lalu sang ayah menunjuk bulan purnama lalu bertanya pada
“Nawangsih indah bukan bulan purnama itu nak?”, “iya sangat indah pak” Jawab
Nawangsih. Jaka Tarub menjelaskan bagaimana ibunya yang sangat mirip dengan
Nawangsih, Nawangsih masuk kedalam rumah karena sudah merasa ngantuk. Jaka
Tarub masih tetap di depan rumah memandangi bulan purnama dan membayangkan awal
dia bertemu dengan Nawang Wulan. Saat itu Jaka Tarub sedang berburu di hutan
tetapi tidak ada binatang buruan satupun lalu Jaka Tarub merasa lelah dan
beristirahat di samping batu besar hingga tertidur. Para bidadari di atas
langit memandangi bumi dan ingin turun ke bumi ketika para bidadari melihat
mata air dan ingin mandi di mata air tersebut. Akhirnya mereka turu ke bumi dan
mandi di mata air tersebut, Jaka Tarub melihat para bidadri itu dengan wajah
yang kaget dan kagum tidak berpikir panjang ia mengambil salah satu slendang
yang ada di atas batu. Seteh mereka lelah bermain-main air mereka naik ke darat
dan memakai selendangnya masing-masing untuk terbang ke kayangan, tetapi
selendang Nawang Wulan tidak ada di tempat Nawang menaruh selendangnya. Nawang
Wulan sudah mencari disekitar tempat ia menaruh selendang tetapi tetap tidak
ada dan sudah dibantu pula oleh adik-adiknya. Hari sudah mulai pagi dan para
bidadari sudah harus pulang kekayangan, tetapi adik-adik Nawang Wulan tidak
tega pada Nawang Wulan. Nawang Wulan meyakinkan adik-adiknya bahwa dia akan
baik-baik saja di bumi, adik-adik Nawang Wulan pulang dengan sedih. Nawang
Wulan kembali berendam kembali di mata air sambil berkata “siapapun yang mau
memberiku pakain untukku jika ia perempuan aka ku jadikan saudara jika ia
laki-laki akan ku jadikan suami”, Jaka Tarub mendengar perkataan Nawang Wulan
ia bergegas pulang dan mengambil pakaian ibunya untuk diberikan Nawang Wulan
dan menaruh selendang Nawang Wulan di tempat penyimpan beras. Jaka Tarub
kembali ke mata air dan memberikan pakainnya kepada Nawang Wulan, Nawang Wulan
pun menepati janjinya untuk menikah dengan Jaka Tarub. Menikahlah mereka dan
Nwang Wulan pun hamil tidak lama Nwang Wulan melahirkan dengan bantuan Mbok
Sri, Nawang Wulan melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Nawangsih.
Pada suatu hari Nawang Wulan hendak ke sungai untuk mencuci baju dan berpesan
pada Jaka Tarub untuk menjaga Nawangsih dan menjaga api agar tidak mati yang
sedang memasak nasi dan Jaka Tarub dilarang Nawang Wulan membuka penutup
penenak nasinya, tetapi Jaka Tarub semakin penasaran mengapa tidak boleh membuka
penutup penenak nasi tersebut. Jaka Tarub membuka penutup itu dan heran mengapa
hanya sebatang padi yang dimasak oleh istrinya. Nwang Wulan pulang dan ditanya
oleh Jaka Tarub mengapa hanya memasak sebatang padi saja, Nawang Wulan kaget
dan marah pada JakaTarub dan membuka penyimpanan beras ternya di dalamnya ada
selendang Nawang Wulan, pulanglah Nwang Wulan ke kayangan meski Jaka Tarub
sudah memohon untuk tidak pergi. Dari cerita di atas banyak sekali pesan yang
dapat dipetik seperti, tidak boleh mengingkari janji yang sudah diucapkan. Mengapa
harus kebongan yang dijadikan alasan untuk mencintai seseorang jika ada alasan
lain. Pesan yang disampaikan para pemain Jaka Tarup ini memang langsung
mengenai hati para penonton. Hingga para penonton terbawa perasaannya, itu
artinya pesan yang akan disampaikan para pemain tersampaikan dengan baik. Pesan
dapat tersampaikan dengan baik itu karena para pemain, memainkan peran dengan penuh
perasaan dan total dalam memerankan perannya. Itu artinya pementasan teater gema
ini berhasil mencapai tujuan yaitu respon yang positif dari penonton.
Perisiapan untuk menuju pementasan ini hanya membutuhkan waktu 1 minggu, saya
mewawancarai salah satu pemain Jaka Tarub yang berberan sebagai Nawang Wulan
menyatakan bahwa “persiapan untuk pementasan ini hanya 1 minggu dan pemeran
Nawang wulan ini puas akan pementasan yang telah terselenggara”. Selain Jaka
Tarub teater Gema juga mempersembahkan Balada Sumarah yang isi ceritanya
Sumarah adalah anak seorang PKI yang tidak dianggap di lingkungannya, yang
akhirnya ia menjadi TKW di Arab ketidakadilan ia alami gajinya selamaa satu
tahun tidak keluar dan musibah besar menimpa dirinya majikan laki-lakinya tega
melakukan hal yang sangat keji. Sumarah membalas perbuatan majikan itu dengan
membunuh majikannya dan akhirnya Sumarah menjadi tahanan yang mendapatkan
hukuman mati. Balada Sumarah ini menjadi juara satu di PEKSIMIDA tingkat Jawa
Tenggah dan akan maju ke tingkat nasional. Pemeran Sumarah juga sangat hebat
dalam memerankan Sumarah, menyampaikan pesan dengan sangat baik melalui akting
yang total maka tidak heran jika para penonton mengganga melihat persembahan
yang begitu luar biasa. Di balik hasil yang memukau pasti ada sebuah
pengorbanan yang besar pula, pengorbanan tersebut adalah dari latihan yang
harus sering dilakukan dan tentu pengorbanan dari sutradaranya yang ikut andil
pula dalam pementasan Jaka Tarub dan Balada Sumarah ini. Sudah sangat berhasil.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar