Minggu, 25 Desember 2016

Mengangkat Kembali Jaka Tarub dan Balada Sumarah
Oleh : Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151\




Saya setuju dengan ulasan yang disampaikan oleh Mia Muharromah bahwa Teater Gema UPGRIS membuat kagum banyak pasang mata, karena saya pun kagum dengan persembahan dari Teater Gema itu. Setelah saya mewawancarai salah satu pelakon Jaka tarub di balik kesuksesan Teater Gema melakonkan Jaka tarub dan Balada Sumarah ada pengorbanan dari setiap pelakon. Pengorbanan waktu dan tenaga itu pasti namun, para pelakon tidak merasa terbebani untuk mengorbankan waktu dan tenaga mereka. Dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mereka melakonkan Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Penonton dengan sendirinya ingin menonton bukan karena diwajibkan oleh dosen pengampu untuk menonton. Bukan hanya pelakon yang berkorban tetapi penonton juga berkorban waktu, tenaga dan biaya. Karena tiket untuk bisa menonton Jaka Tarub dan Balada Sumarah tidaklah gratis, tetapi dijual seharga Rp. 3.000. Banyak hal dan pesan yang dapat dipetik dari persembahan Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Entah itu pesan tersirat maupun tersurat dan pesan yang disampaikan itu sudah tersampaikan kepada para penonton dengan melihat respon dari para penonton. Anak sekarang menyebutnya dengan “Baper” atau terbawa suasana karena tidak hanya mahasiswa UPGRIS yang menonton tetapi ada juga pelajar dari SMA N 1 Gresik dan SMK 5 Semarang. Nampak para pelajar asik menikmati persembahan dengan khitmat, setelah persembahan usai mereka asik mengambil gambar dengan para pelakon. Nampak sangat antusias setelah menyaksikan persembahan, dan antusias itu semakin menjadi-jadi saat Balada Sumrah tampil saya sebagai mahasiswa UPGRIS bangga melihat respon para pelajar itu. Persembahan ini pun sudah masuk dalam surat kabar dalam bentuk blog yaitu Papanindonesia. Mungkin ada juga seteleh menyaksikan menjadikan persembahan itu inspirasi dan terciptalah sebuah karya baru. Mungkin dalam ulasan Mia Muharromah hal ini belum diulas oleh karena itu, kali ini saya mengulas lebih dalam mengenai Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Para pelakon sangat total melakonkan Jaka Tarub dan yang memerankan Sumarah sungguh sangat keren menurut saya, bahkan saya dibuat mengangga olehnya, sangat berkesan dan terkemas sangat apik. Pantas mendapatkan juara 1 dalam PEKSIMIDA 2016, karena memang pantas dan terbayar pengorbanan pelakon dan sutradara Balada Sumarah karena sutradara Balada Sumarah ini rela menunda wisudanya untuk menyutradarai Balada Sumarah ini. Pelakon dan sutradara Balada Sumarah harus berjuang kembali dalam PEKSIMINAS 2016. Doa terbaik terlontar dari setiap orang yang peduli dengan sastra, semoga doa terbaik itu terwujud. Tidak hanya hal-hal yang baik yang dapat dipetik tetapi banyak pelajaran yang dapat saya ambil yaitu mengenai bangaimana menghayati suatu drama dengan baik, bagaimana memerankan tokoh dalam suatu drama dengan baik dan bagaimana membawakan diri pada suasana yang diinginkan oleh stutradara. Ini tidak pertama kalinya saya menyaksikan sebuah teater yang dipersembahkan oleh Teater Gema jadi banyak ilmu yang saya dapat dari setip pementasan. Ilmu tersebut akan bermanfaat untuk saya, karena pada semester 4 nanti saya akan mendapat mata kuliah Drama. Jadi akan mempermudah saya dalam mata kuliah drama itu sendiri. dalam drama kita harus berani dan berusaha seperti yang dikatakan Mia Muharromah dalam ulasannya “jika ingin sukses harus berani bersusah susah dahulu dan harapan mbak Eva semoga bisa menjuarai tingkat nasional,itu doa kita semua, Semoga teater Gema tetap Berjaya dan terus meningkatkan karya-karya nya dalam seni berteater dan memberikan inspirsi bagi seluruh mahasiswa Universitas PGRI Semarang” pesan dari mbak Eva sutradara Balada Sumarah. Teater Gema mengemas kembali cerita rakyat yang sudah sering saya dengar dan saya sudah melihat di Televisi, teater Gema mengemas sedemikian rupa dan menjadi lebih singkat. Di pementasan Jaka Tarub inipun juga diselingi lawakan dari ulasa Mia Muharromah menyampaikan “lawak yang berperan sebagai Tomo dan Topo dia berlakon sebagai warga sekitar yang ingin mencalonkan diri sebagai Lurah. Lawakan mereka pun sangat menghibur para  penonton, namun bukan hanya lawakan saja yang diberikan , ada unsure nasihat yang bisa dipetik dari lakon yang mereka mainkan yaitu jika hendak jadi pemimpin harus ramah,santun,bijaksana dan ada satu dialog yang mengucapkan salam dan menjawab salam, umum nya jika Topo yang mengucapkan salam, maka Tomo lah yang menjawab, namun di dialog ini Topo yang megucapkan salam dan Topo lah yang menjawab nya, dan pesan dari dialog ini adalah “yang Sunnah saja di kerjakan masa yang Wajib aku Tinggalkan” mengucap salam adalah sunnah dan menjawab salam adalah wajib. Setelah kata kata itu keluar dari mulut Topo yang diperankan oleh seoarang laki laki berbadan gemuk , penonton langsung tertawa dan memberikan applause yang meriah untuk Topo. Adegan lawak seperti ini memang harus ada di sebuah pertunjukkan, supaya penonton tidak bosan dengan alur ceritanya”. Seperti lawakan dalam sebuah pementasan ini penting karena bisa menghilangkan rasa bosan dan jenuh dari para penonton yang ceritanya pun sudah sering didengar oleh para penonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar