Mengangkat
Kembali Jaka Tarub dan Balada Sumarah
Oleh
: Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151\
Saya
setuju dengan ulasan yang disampaikan oleh Mia Muharromah bahwa Teater Gema
UPGRIS membuat kagum banyak pasang mata, karena saya pun kagum dengan
persembahan dari Teater Gema itu. Setelah saya mewawancarai salah satu pelakon
Jaka tarub di balik kesuksesan Teater Gema melakonkan Jaka tarub dan Balada
Sumarah ada pengorbanan dari setiap pelakon. Pengorbanan waktu dan tenaga itu
pasti namun, para pelakon tidak merasa terbebani untuk mengorbankan waktu dan
tenaga mereka. Dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mereka melakonkan Jaka Tarub
dan Balada Sumarah. Penonton dengan sendirinya ingin menonton bukan karena
diwajibkan oleh dosen pengampu untuk menonton. Bukan hanya pelakon yang
berkorban tetapi penonton juga berkorban waktu, tenaga dan biaya. Karena tiket
untuk bisa menonton Jaka Tarub dan Balada Sumarah tidaklah gratis, tetapi
dijual seharga Rp. 3.000. Banyak hal dan pesan yang dapat dipetik dari
persembahan Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Entah itu pesan tersirat maupun
tersurat dan pesan yang disampaikan itu sudah tersampaikan kepada para penonton
dengan melihat respon dari para penonton. Anak sekarang menyebutnya dengan
“Baper” atau terbawa suasana karena tidak hanya mahasiswa UPGRIS yang menonton
tetapi ada juga pelajar dari SMA N 1 Gresik dan SMK 5 Semarang. Nampak para
pelajar asik menikmati persembahan dengan khitmat, setelah persembahan usai
mereka asik mengambil gambar dengan para pelakon. Nampak sangat antusias
setelah menyaksikan persembahan, dan antusias itu semakin menjadi-jadi saat
Balada Sumrah tampil saya sebagai mahasiswa UPGRIS bangga melihat respon para
pelajar itu. Persembahan ini pun sudah masuk dalam surat kabar dalam bentuk
blog yaitu Papanindonesia. Mungkin ada juga seteleh menyaksikan menjadikan
persembahan itu inspirasi dan terciptalah sebuah karya baru. Mungkin dalam
ulasan Mia Muharromah hal ini belum diulas oleh karena itu, kali ini saya
mengulas lebih dalam mengenai Jaka Tarub dan Balada Sumarah. Para pelakon
sangat total melakonkan Jaka Tarub dan yang memerankan Sumarah sungguh sangat
keren menurut saya, bahkan saya dibuat mengangga olehnya, sangat berkesan dan
terkemas sangat apik. Pantas mendapatkan juara 1 dalam PEKSIMIDA 2016, karena
memang pantas dan terbayar pengorbanan pelakon dan sutradara Balada Sumarah
karena sutradara Balada Sumarah ini rela menunda wisudanya untuk menyutradarai
Balada Sumarah ini. Pelakon dan sutradara Balada Sumarah harus berjuang kembali
dalam PEKSIMINAS 2016. Doa terbaik terlontar dari setiap orang yang peduli
dengan sastra, semoga doa terbaik itu terwujud. Tidak hanya hal-hal yang baik
yang dapat dipetik tetapi banyak pelajaran yang dapat saya ambil yaitu mengenai
bangaimana menghayati suatu drama dengan baik, bagaimana memerankan tokoh dalam
suatu drama dengan baik dan bagaimana membawakan diri pada suasana yang
diinginkan oleh stutradara. Ini tidak pertama kalinya saya menyaksikan sebuah
teater yang dipersembahkan oleh Teater Gema jadi banyak ilmu yang saya dapat
dari setip pementasan. Ilmu tersebut akan bermanfaat untuk saya, karena pada
semester 4 nanti saya akan mendapat mata kuliah Drama. Jadi akan mempermudah
saya dalam mata kuliah drama itu sendiri. dalam drama kita harus berani dan
berusaha seperti yang dikatakan Mia Muharromah dalam ulasannya “jika ingin sukses harus berani
bersusah susah dahulu dan harapan mbak Eva semoga bisa menjuarai tingkat
nasional,itu doa kita semua, Semoga teater Gema tetap Berjaya dan terus
meningkatkan karya-karya nya dalam seni berteater dan memberikan inspirsi bagi
seluruh mahasiswa Universitas PGRI Semarang” pesan dari mbak Eva sutradara
Balada Sumarah. Teater Gema mengemas kembali cerita rakyat yang sudah sering
saya dengar dan saya sudah melihat di Televisi, teater Gema mengemas sedemikian
rupa dan menjadi lebih singkat. Di pementasan Jaka Tarub inipun juga diselingi lawakan
dari ulasa Mia Muharromah menyampaikan “lawak yang berperan sebagai Tomo dan
Topo dia berlakon sebagai warga sekitar yang ingin mencalonkan diri sebagai
Lurah. Lawakan mereka pun sangat menghibur para
penonton, namun bukan hanya lawakan saja yang diberikan , ada unsure
nasihat yang bisa dipetik dari lakon yang mereka mainkan yaitu jika hendak jadi
pemimpin harus ramah,santun,bijaksana dan ada satu dialog yang mengucapkan
salam dan menjawab salam, umum nya jika Topo yang mengucapkan salam, maka Tomo
lah yang menjawab, namun di dialog ini Topo yang megucapkan salam dan Topo lah
yang menjawab nya, dan pesan dari dialog ini adalah “yang Sunnah saja di kerjakan masa yang Wajib aku Tinggalkan” mengucap salam adalah sunnah dan menjawab
salam adalah wajib. Setelah kata kata itu keluar dari mulut Topo yang
diperankan oleh seoarang laki laki berbadan gemuk , penonton langsung tertawa
dan memberikan applause yang meriah
untuk Topo. Adegan lawak seperti ini memang harus ada di sebuah pertunjukkan,
supaya penonton tidak bosan dengan alur ceritanya”. Seperti lawakan dalam
sebuah pementasan ini penting karena bisa menghilangkan rasa bosan dan jenuh
dari para penonton yang ceritanya pun sudah sering didengar oleh para penonton.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar