Perayaan
Sumpah Pemuda
Oleh:
Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151
Teater Gema kembali
menyelenggarakan sebuah acara yang bertajuk Sumpah Pemuda yang diselenggarakan
di halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang acara dimulai pukul 09.00.
Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Sumpah Pemuda, acara diisi dengan
orasi-orasi dari Teater Gema dan mahasiswa-mahasiwa yang datang untuk
menyaksikan acara dari Teater Gema tersebut. Orasi yang dilontarkan dari para
pembaca tentang perjuangan dan mengenai sumpah-sumpah para pemuda. Setiap
mahasiswa yang datang diberikan subuah kertas dan menuliskan harapan untuk para
pemuda di era sekarang, dan harapannya itu ditempelkan disebuah MMT putih.
Disitu saya menuliskan harapan saya untuk para pemuda diera saat ini “Menjadi
pemuda yang bermoral dan berakhlak baik”. Mengapa saya menulis harapan
demekian? Itu karena saya melihat pemuda sekarang semakin tidak bermoral dan
berakhlak, tidak mempuyai sopan dan santun pada orang yang lebih tua. Mau jadi
apa bangsa ini jika pemudanya tidak bermoral dan berakhlak, padahal nasib
bangsa kedepan ada ditangan mereka. Inilah yang menjadi PR untuk pada orang tua
dan pendidik untuk menanamkan moral dan akhlak yang baik pada diri pemuda mulai
sejak dini. Agar bangsa tidak bernasib muram jika pemuda mempunyai moral,
akhlak dan pikiran yang cerdas maka nasib bangsa akan bernasib cerah. Teater
Gema mengerakan hati mereka untuk selalu mengingat hari Sumpah Pemuda pada
tanggal 28 Oktober . Acara yang patut diapresiasi namun tidak banyak yang
datang untuk menyaksikan acara ini. Banyak harapan-harapan yang dipikulkan
untuk para pemuda saat ini, nasib bangsa pun ada pada pundak para pemuda.
Selain acara orasi Sumpah Pemuda yang diadakan oleh Teater Gema, ada juga acara
yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni untuk
menyambut Sumpah Pemuda yang dinamai dengan Gebyar Bulan Bahasa yang setiap
tahunnya pasti diseleggarakan dan tahun ini BEM Fakultas Pendidikan Bahasa dan
Seni berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun-tahun sebelumnya semua
mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diarak dengan mengenakan pakaian
adat nusantara dan diadakan lomba yel-yel kelas. Untuk tahun ini mahasiswa
Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diarahkan pada satu tempat yaitu di Balairung
Universitas PGRI Semarang dan tetap mengenakan pakaian adat nusantara dan acara
yang berlangsung sangat meriah karena ada 28 peserta lomba Festival Budaya
yaitu menampilkan tari kreasi. Semua kelas yang mengikuti lomba sangat kreatif
dan sangat luwes menarikan tarian yang mereka kreasikan. Acara yang begitu
megah ini diawali dengan sebuah sajian yang dipersembahkan dari paduan suara,
suara yang indah dan melengking menguncang dan membuat bulu kudu merinding
dibuatnya. Salah satu lagu yang dibawakan adalah lagu Satu Nusa Satu Bangsa
yang begitu merdu dan indah. Paduan suara tersebut sebagai pembuka acra pada
hari Kamis tanggal 27 Oktober 2016, setelah itu ada mahasiswi dari Program
Studi Pendidikan Bahasa Jawa dari Prancis menarikan tarian Cublak-cublak Suweng,
Mahasiswi tersebut sangat luwes menariakan tarian tersebut, dilanjutkan dengan
lawakan yang menjadi juara 1 seJawa Tengah, lawakan yang membuat penonton
tertawa lepas. Dan tibalah acara inti pembukaan Festival Budaya dibuka olek
Rektor Universitas PGRI Semarang dengan ditandai dengan memukul sebuah kendang
besar. Untuk menilai tarian dari setiap penampil panitia mengundang 3 juri yang
berbakat dalam bidangnya. Setelah acara dibuka oleh Rektor Universitas PGRI
Semarang peserta nomor urut satu dipanggil untuk menampilkan tariannya, semua
peserta menampilkan tariannya dengan sangat total. Namun tidak sedikit peserta
yang mengreasikan tariannya dengan tarian ala barat, dan menurut saya tarian
yang ditarikan itu kurang sopan jika ditarikan dikalangan mahasiswa calon
pendidik. Ada yang menarik dalam Festival Budaya tahun 2016 ini yaitu dari
Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa menampilkan tarian yang menggunakan Reog yang
sangat khas dan tarian itu mendapatkan juara 3 terbayarlah kerja keras mereka.
Tibalah saatnya nomor urut 24 yaitu dari
kelas 3D menampilkan tari yang diberi nama tari egolan yang ditarikan oleh 5
orang mahasiswi, hingga nomor urut terakhir dan juri pun berunding. Selagi
menunggu hasil keputusan juri panitia mengajak para peserta yang hadir untuk
Flash mob, semua peserta ikut serta mengoyang panggung Balairung memeriahkan
puncak acara semua peserta menari ria mengikuti irama music yang diputar oleh
panitia. Setelah lagu pertama berakhir peserta merasa belum puas dan akhirnya
diputar lagi. Sampai akhirnya juri telah mendapatkan keputusan dan langsung
diumumkan yang berhak mendapat juara. Semoga acara seperti ini acara yang
melestarikan sebuah sejarah yang perlu diingat dan di lestarikan setiap
tahunnya harus diadakan agar generasi-generasi selanjutnya tetap tahu sejarah
yang ada di Indonesia. Agar generasi-generasi selanjutnya tidak melupakan sejarah,
agar tau bagaimana perjuangan para pahlawan. Semoga Indonesia menjadi bangsa
yang maju dan kuat. Semoga***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar