Minggu, 25 Desember 2016

Perayaan Sumpah Pemuda
Oleh: Oktaviani Vika Ariska/3D/15410151




Teater Gema kembali menyelenggarakan sebuah acara yang bertajuk Sumpah Pemuda yang diselenggarakan di halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang acara dimulai pukul 09.00. Acara ini diselenggarakan untuk memperingati Sumpah Pemuda, acara diisi dengan orasi-orasi dari Teater Gema dan mahasiswa-mahasiwa yang datang untuk menyaksikan acara dari Teater Gema tersebut. Orasi yang dilontarkan dari para pembaca tentang perjuangan dan mengenai sumpah-sumpah para pemuda. Setiap mahasiswa yang datang diberikan subuah kertas dan menuliskan harapan untuk para pemuda di era sekarang, dan harapannya itu ditempelkan disebuah MMT putih. Disitu saya menuliskan harapan saya untuk para pemuda diera saat ini “Menjadi pemuda yang bermoral dan berakhlak baik”. Mengapa saya menulis harapan demekian? Itu karena saya melihat pemuda sekarang semakin tidak bermoral dan berakhlak, tidak mempuyai sopan dan santun pada orang yang lebih tua. Mau jadi apa bangsa ini jika pemudanya tidak bermoral dan berakhlak, padahal nasib bangsa kedepan ada ditangan mereka. Inilah yang menjadi PR untuk pada orang tua dan pendidik untuk menanamkan moral dan akhlak yang baik pada diri pemuda mulai sejak dini. Agar bangsa tidak bernasib muram jika pemuda mempunyai moral, akhlak dan pikiran yang cerdas maka nasib bangsa akan bernasib cerah. Teater Gema mengerakan hati mereka untuk selalu mengingat hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober . Acara yang patut diapresiasi namun tidak banyak yang datang untuk menyaksikan acara ini. Banyak harapan-harapan yang dipikulkan untuk para pemuda saat ini, nasib bangsa pun ada pada pundak para pemuda. Selain acara orasi Sumpah Pemuda yang diadakan oleh Teater Gema, ada juga acara yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni untuk menyambut Sumpah Pemuda yang dinamai dengan Gebyar Bulan Bahasa yang setiap tahunnya pasti diseleggarakan dan tahun ini BEM Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun-tahun sebelumnya semua mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diarak dengan mengenakan pakaian adat nusantara dan diadakan lomba yel-yel kelas. Untuk tahun ini mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni diarahkan pada satu tempat yaitu di Balairung Universitas PGRI Semarang dan tetap mengenakan pakaian adat nusantara dan acara yang berlangsung sangat meriah karena ada 28 peserta lomba Festival Budaya yaitu menampilkan tari kreasi. Semua kelas yang mengikuti lomba sangat kreatif dan sangat luwes menarikan tarian yang mereka kreasikan. Acara yang begitu megah ini diawali dengan sebuah sajian yang dipersembahkan dari paduan suara, suara yang indah dan melengking menguncang dan membuat bulu kudu merinding dibuatnya. Salah satu lagu yang dibawakan adalah lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang begitu merdu dan indah. Paduan suara tersebut sebagai pembuka acra pada hari Kamis tanggal 27 Oktober 2016, setelah itu ada mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa dari Prancis menarikan tarian Cublak-cublak Suweng, Mahasiswi tersebut sangat luwes menariakan tarian tersebut, dilanjutkan dengan lawakan yang menjadi juara 1 seJawa Tengah, lawakan yang membuat penonton tertawa lepas. Dan tibalah acara inti pembukaan Festival Budaya dibuka olek Rektor Universitas PGRI Semarang dengan ditandai dengan memukul sebuah kendang besar. Untuk menilai tarian dari setiap penampil panitia mengundang 3 juri yang berbakat dalam bidangnya. Setelah acara dibuka oleh Rektor Universitas PGRI Semarang peserta nomor urut satu dipanggil untuk menampilkan tariannya, semua peserta menampilkan tariannya dengan sangat total. Namun tidak sedikit peserta yang mengreasikan tariannya dengan tarian ala barat, dan menurut saya tarian yang ditarikan itu kurang sopan jika ditarikan dikalangan mahasiswa calon pendidik. Ada yang menarik dalam Festival Budaya tahun 2016 ini yaitu dari Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa menampilkan tarian yang menggunakan Reog yang sangat khas dan tarian itu mendapatkan juara 3 terbayarlah kerja keras mereka. Tibalah saatnya nomor urut  24 yaitu dari kelas 3D menampilkan tari yang diberi nama tari egolan yang ditarikan oleh 5 orang mahasiswi, hingga nomor urut terakhir dan juri pun berunding. Selagi menunggu hasil keputusan juri panitia mengajak para peserta yang hadir untuk Flash mob, semua peserta ikut serta mengoyang panggung Balairung memeriahkan puncak acara semua peserta menari ria mengikuti irama music yang diputar oleh panitia. Setelah lagu pertama berakhir peserta merasa belum puas dan akhirnya diputar lagi. Sampai akhirnya juri telah mendapatkan keputusan dan langsung diumumkan yang berhak mendapat juara. Semoga acara seperti ini acara yang melestarikan sebuah sejarah yang perlu diingat dan di lestarikan setiap tahunnya harus diadakan agar generasi-generasi selanjutnya tetap tahu sejarah yang ada di Indonesia. Agar generasi-generasi selanjutnya tidak melupakan sejarah, agar tau bagaimana perjuangan para pahlawan. Semoga Indonesia menjadi bangsa yang maju dan kuat. Semoga***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar